BATAM, Kepri.info – Kota itu mendidih, Bukan oleh terik pesisir, melainkan oleh lidah Tuan Barata. Sebagai Ketua Partai besar sekaligus punggawa parlemen provinsi, arogansinya telah menjadi hukum tak tertulis. “Di tanah ini, suara saya adalah garis takdir kalian!” bentaknya dalam sebuah rekaman yang membakar nalar publik. Bagi Barata, takhta adalah izin untuk menjadi tuhan kecil di atas panggung kekuasaan.
Elang dan barisan mahasiswa dari Ikatan Intelektual tidak tinggal diam. Bagi mereka, membiarkan arogansi Barata adalah mengkhianati nurani. Mereka sepakat: Sekretariat Partai di jantung kota harus menjadi saksi bahwa rakyat masih punya nyali.
Namun, demokrasi di kota itu ternyata memiliki gerbang yang berkarat.
Saat matahari mencapai puncak, Elang mendapati Sekretariat Partai bukan lagi kantor politik, melainkan benteng intimidasi. Jalanan diblokade, akses dikunci oleh barisan pria berwajah kaku. Di lantai atas, di balik kaca besar yang memantulkan warna merah putih, Barata berdiri menyesap cerutu.
Ia menonton dari ketinggian, memandang massa di bawah seolah mereka hanyalah semut yang mengganggu estetika gedung mewahnya.
Warna merah putih di kaca itu menjadi ironi yang perih—simbol suci yang kini dijadikan tameng untuk membentengi keangkuhan seorang penguasa dari suara rakyatnya sendiri.
Tekanan datang dari segala penjuru—telepon gelap hingga kepungan massa tandingan. Aksi itu dipaksa layu sebelum satu bait tuntutan menggema. Barata berhasil membungkam jalanan hari itu, seolah mengonfirmasi kebenaran adagium lama: Power tends to corrupt—bahwa kekuasaan cenderung merusak, dan ketika ia merasa tak tersentuh, ia mulai membusuk dari dalam.
Namun, Barata lupa satu hal: Matahari tidak pernah benar-benar tenggelam; ia hanya sedang mengumpulkan energi untuk terbit lebih garang. Malamnya, Elang menuliskan catatan yang menyebar lebih cepat dari api.
”Tuan Barata, Anda mungkin bisa mengunci gerbang gedung dan membubarkan barisan kami dengan kekuasaan. Namun, setiap arogansi yang Anda pamerkan hanya akan mempertebal catatan sejarah tentang pemimpin yang takut pada suara rakyatnya sendiri. Jangan berlindung di balik simbol merah putih jika hati Anda tidak lagi searah dengan detak jantung rakyat. Hukum mungkin bisa Anda beli, tapi kehormatan tidak pernah dijual di pasar politik.”
Di kota itu, aksi mungkin batal, namun bibit perlawanan baru saja berkecambah di kepala setiap orang yang melihat kaca merah putih itu tetap membisu.(***)








