KEPRI.INFO–Waduk Sei Jago merupakan salah satu sumber air baku di Kabupaten Bintan. Waduk Sei Jago ini dibangun pada tahun 1966 dan diperuntukkan sebagai pendukung kebutuhan air bagi kapal Perang TNI. Seiring keberadaannya, Waduk Sei Jago berperan sebagai infrastruktur penampung air penting yang berfungsi sebagai sumber air baku utama untuk masyarakat di wilayah Tanjung Uban.

Sejak dibangun pada tahun 1966, Waduk Sei Jago sendiri telah beberapa kali dilakukan perluasan dan penanganan kebocoran.
Pada tahun 2003, PU melalui BWS Sumatera IV melaksanakan penataan dan perluasan tampungan yang dilakukan dengan cara menggali disepanjang sisi waduk agar waduk dapat menampung air lebih banyak dan terlihat rapi.
Tahun 2008, penanggulangan kebocoran dan perluasan tampungan kembali dilaksanakan dengan cara melapisi bendungan bagian depan dengan cor beton bertulang di sepanjang waduk + 125 m serta peninggian bendungan 20 cm guna memperluas tampungan hingga luas area waduk menjadi 7,5 Ha.
Pekerjaan ini dilakukan sebagai upaya penyehatan PDAM oleh pemerintah dalam bentuk Bantuan Teknis melalui PU SNVT Provinsi Kepri tahun 2008.
Penanggulangan kebocoran dan perluasan tampungan juga dilakukan pada tahun 2016 oleh Kementerian PU melalui BWS Sumatera IV Batam dengan cara menggali serta memperluas waduk dan melapisi bendungan bagian depan dengan cor beton bertulang sepanjang waduk 125 m serta peninggian bendungan 30 cm. Guna memperluas tampungan hingga luas area waduk menjadi 8 Ha.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPP) Provinsi Kepulauan Riau, Rodi Yantari. ST., M.M., M.T menjelaskan, bahwa tahun 2026 kembali terjadi kerusakan di Waduk Sei Jago.
“Akibat lama tidak turun hujan, antara Maret-April 2026 kondisi Waduk Sei Jago rusak berat dan terdapat kebocoran pada struktur bawah waduk,”Jelasnya.
Disamping itu, lahan masyarakat yang bersempadan dengan waduk juga sudah beralih fungsi, yang awalnya merupakan hutan saat ini sebagian besar sudah berubah menjadi kebun masyarakat.
Rodi menambahkan, kerusakan yang terjadi pada Waduk Sei Jago dikhawatirkan dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi.
“Tingginya curah hujan dikhawatirkan dapat mengakibatkan meningkatnya volume tampungan waduk, yang dapat mengakibatkan waduk jebol dan membanjiri permukiman di sekitar Desa Lancang Kuning,”jelasnya.
Diperkirakan sekitar 52,96 Ha kawasan akan terdampak jika tanggul Waduk Sei Jago mengalami kegagalan (jebol), dan berdampak terhadap instalasi pengolahan air, Kantor Cabang Perumda, sekolah, jalan raya, mesjid, kantor desa dan pemukiman penduduk.
“Menyikapi kerusakan Waduk Sei Jago tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas PUPP Provinsi Kepulauan Riau dan Perumda Air Minum Tirta Kepri telah melakukan penanganan kebocoran.
“Namun karena keterbatasan anggaran, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah mengusulkan rehabilitasi Waduk Sei Jago ke Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan Kementerian PU”, tutupnya.
Redaktur: Suaib








