oleh

Lantamal IV Tanjungpinang Amankan KM JM 68 tonase 223 GT

Komandan Lantamal IV, Laksma TNI S Irawan
Komandan Lantamal IV, Laksma TNI S Irawan

Dokumen Kapal Terlihat Janggal

TANJUNGPINANG (Kepri.info) – Tim WFQR Western Fleet Quick Respon Lantamal IV Unit-1 Jatanrasla (Kejahatan dan kekerasan dilaut) telah menghentikan dan pemeriksaan sebuah kapal kargo besi yang mencurigakan dengan nama KM JM 68 tonase 223 GT berbendera Indonesia, Sabtu (19/11).

Penangkapan diperairan utara Batuampar Batam pada posisi 01 09 756”LU – 103 58 281 BT dengan nahkoda Muhyar, ABK 4 orang pemilik Said Abu Bakar yang beralamat di Aceh, kapal dari West OPL Outside Port Limits, Singapura dekat Pulau Kukup Malaysia berlayar keperairan Batuampar Batam tanpa dilengkapi dokumen berlayar yang sah (Port Clereance dari Singapura tidak ada).

Dari hasil interogasi terhadap nahkoda dan 4 orang ABK mengakui bahwa kelima orang tersebut sebenarnya berangkat dari Batam pada tanggal 15 November 2016 dengan menggunakan boat service dari pelabuhan tikus Tanjung Uma Batam menuju perairan West OPL Singapura di lokasi lego jangkar kapal kargo besi dengan nama KM JM-68 dengan membawa SPB (Surat Persetujuan Berlayar) yang dikeluarkan Syahbandar Kijang dengan SPB No.C.9/AP.IV/173/XI 2016 tanggal 15 Nopember 2016 beserta dokumen kapal KM JM-68.

Modus kejahatan yang berhasil dibongkar oleh Tim WFQR -4 adalah (1).Kapal tersebut akan mengagkut barang illegal dan barang akan ditransfer di perairan West OPL Outside Port Limits ke kapal lain yang sudah menunggu.(2).Kapal tersebut sudah berada di perairan West OPL dokumen kelaikan kapal berlayar diurus di Kijang serta adanya kejanggalan diduga ada permainan dengan oknum Syahbandar.

KM JM 68 tonase 223 GT berbendera Indonesia yang diamankan Lantamal IV Tanjungpinang
KM JM 68 tonase 223 GT berbendera Indonesia yang diamankan Lantamal IV Tanjungpinang

Sampai saat ini Tim WFQR-4/Unit 1 Jatanrasla Lantamal IV mengamankan kapal kargo besi yang diduga illegal tersebut untuk dilaksanakan penyelidikan lebih lanjut terkait dokumen kapal beserta nahkoda dan ABKnya.

Sementara itu Komandan Lantamal IV Laksma TNI S Irawan mengatakan bahwa mengamankan perairan kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan tiga Negara yaitu sebelah utara berbatasan dengan Negara Vietnam, sebelah barat berbatasan dengan Negara Singapura dan Malaysia tidak semudah membalik telapak tangan, namun memerlukan konsistensi, ketegasan serta kerjasama secara terus menerus dan membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah serta komponen masyarakat., tidak mungkin TNI AL bekerja sendiri yang pasti keterpaduan yang kita butuhkan disini, kita harus merubah mindset kita dan harus kita hilangkan budaya kongkalingkong dengan oknum petugas terhadap penerbitan dokumen kapal yang tidak semestinya atau diluar kepatutan.

Banyaknya tingkat pelanggaran dan kejahatan di perairan Kepri dengan berbagai modus yang berhasil Lantamal IV ungkap selama ini, namun fenomena ini adalah fenomena gunung es masih banyak lagi kasus-kasus yang belum terungkap apa lagi melibatkan mafia lintas Negara yang sulit tersentuh.

Tim WFQR Western Fleet Quick Respon Lantamal IV Unit-1 Jatanrasla dan kru KM JM 68 tonase 223 GT
Tim WFQR Western Fleet Quick Respon Lantamal IV Unit-1 Jatanrasla dan kru KM JM 68 tonase 223 GT

“Semua permasalahan dan peta kerawanan yang ada di wilayah perairan Kepri sudah kita inventarisir seperti illegal oil, illegal fishing, illegal mining, illegal entry, human trafficking, perompakan, pencurian dengan kekerasan, Narkoba,SAR (Search And Rescue) semua ini setiap akhir tahun akan kita evaluasi dan akan kita kaji serta solusi penanganiannya bagaimana kita terus lakukan,” jelas Danlantamal.

Ditengah keterbatasan anggaran dan peralatan yang tersedia kedepan kata Danlantamal IV sesuai Instruksi dari Kepala Staf Angkatan Laut dan Panglima Komando Armada Barat kita akan mengefektifkan kekuatan kewilayahan dan penguatan intelijen yang ada dengan daya upaya yang kita miliki dalam penegakan hukum dan mengamankan wilayah perairan kepulauan Riau termasuk yang kita gunakan saat ini dengan teknologi penginderaan Drone diwilayah-wilayah rawan tindak pelanggaran hal ini sangat efektif dan efisien serta biaya murah ujar Danlantamal. (***)

Komentar

News Feed