Oleh: Nanda Kristia Santoso
KEPRI.INFO–Pernahkah kita menjumpai seseorang yang hafal banyak kosakata bahasa Inggris, memahami rumus tenses, bahkan mampu menjawab soal tata bahasa dengan benar, tetapi kesulitan ketika diminta membuat kalimat sederhana? Bisa jadi, kita sendiri pernah mengalaminya.
Saat ujian, materi terasa mudah karena masih diingat. Namun, beberapa hari kemudian, ketika pengetahuan itu dibutuhkan, kita justru kesulitan menggunakannya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa mengingat dan memahami merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang mungkin mampu mengingat informasi dalam waktu tertentu, tetapi belum tentu memahami makna, hubungan, dan cara menerapkannya dalam situasi nyata.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, menghafal tetap menjadi bagian penting. Kita perlu menguasai kosakata dan mempelajari tata bahasa untuk menyusun kalimat dengan benar. Namun, proses belajar tidak seharusnya berhenti pada kemampuan mengingat kata dan rumus. Pengetahuan perlu dipahami dan dilatih agar dapat digunakan secara tepat.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin hafal bahwa bentuk lampau dari kata go adalah went. Ia juga mengetahui bahwa simple past tense digunakan untuk membicarakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Ketika menghadapi soal ujian, ia bisa menjawab dengan benar. Akan tetapi, saat diminta menceritakan kegiatannya kemarin dalam bahasa Inggris, ia justru kesulitan menyusun kalimat.
Mahasiswa tersebut bukan berarti tidak belajar. Ia mungkin telah menguasai sebagian materi, tetapi masih membutuhkan latihan untuk menggunakannya secara aktif. Ia mengetahui aturan, tetapi belum sepenuhnya terbiasa menerapkannya.
Dari sini, muncul pertanyaan penting: apakah kita belajar untuk benar-benar memahami sesuatu, atau sekadar berusaha menyimpan sebanyak mungkin informasi di dalam kepala?
Saya teringat pada pembahasan dalam video Kok Bisa? yang menyoroti perbedaan antara menghafal dan memahami. Kita terkadang merasa telah menguasai suatu materi hanya karena mampu mengingatnya. Padahal, pemahaman yang lebih mendalam dapat terlihat ketika kita mampu menjelaskan kembali materi dengan kata-kata sendiri, menghubungkan konsep yang dipelajari, atau menerapkannya dalam situasi yang berbeda.
Persoalan ini tidak hanya ditemukan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Dalam matematika, misalnya, siswa bisa menghafal rumus, tetapi kebingungan menentukan kapan dan bagaimana rumus tersebut digunakan. Dalam mata pelajaran lain, seseorang mungkin mampu menyebutkan definisi dengan tepat, tetapi kesulitan menjelaskan maknanya menggunakan bahasa sendiri.
Hafalan memang dapat membantu seseorang menjawab pertanyaan yang sudah dikenalnya.
Namun, ketika menghadapi persoalan yang berbeda dari contoh sebelumnya, kemampuan mengingat saja belum tentu cukup. Di sinilah pemahaman berperan: membantu seseorang menghubungkan pengetahuan dengan konteks dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.
Menurut saya, salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam pendidikan adalah cara kita menilai keberhasilan belajar.
Kemampuan mengingat materi memang penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran.
Nilai ujian dapat memberikan gambaran tentang pencapaian siswa, tetapi belum tentu menggambarkan seluruh kemampuan mereka dalam memahami dan menerapkan pengetahuan.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, misalnya, mahasiswa tidak cukup hanya diminta menghafal daftar kosakata atau menyebutkan rumus tenses.
Mereka juga perlu memperoleh kesempatan untuk menggunakan kosakata dalam kalimat, menceritakan pengalaman, memahami bacaan, berdiskusi, dan menulis tentang hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat berlatih menghubungkan pengetahuan dengan penggunaannya. Kemampuan mereka tidak hanya terlihat dari seberapa banyak kata yang diingat, tetapi juga dari ketepatan memilih kata, menyusun kalimat, memahami makna, dan menyampaikan gagasan.
Meski demikian, menghafal dan memahami tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi.
Hafalan membantu menyediakan pengetahuan dasar, sedangkan pemahaman memungkinkan pengetahuan itu digunakan secara lebih fleksibel. Kita perlu mengingat kosakata agar dapat berkomunikasi, tetapi kita juga perlu memahami makna dan konteks penggunaannya agar tidak keliru dalam menyampaikan pesan.
Karena itu, ada baiknya kita mengubah kebiasaan ketika belajar. Jangan hanya bertanya, “Apa yang harus saya hafal?” Cobalah bertanya, “Apa makna materi ini?”, “Mengapa aturan ini digunakan?”, dan “Bagaimana saya menerapkannya dalam situasi yang berbeda?”
Setelah mempelajari suatu materi, kita bisa mencoba menjelaskannya kembali dengan bahasa sendiri, membuat contoh baru, atau menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Jika masih kesulitan, bukan berarti kita gagal. Bisa jadi, kita membutuhkan latihan tambahan, contoh yang lebih beragam, atau waktu untuk menghubungkan informasi yang telah dipelajari.
Guru juga memiliki peran penting dalam proses tersebut. Pembelajaran dapat dirancang tidak hanya untuk menguji kemampuan siswa mengingat definisi atau mengerjakan soal dengan pola yang sama, tetapi juga untuk mendorong mereka menjelaskan alasan di balik jawaban, membandingkan contoh, dan menerapkan konsep dalam situasi baru.
Pendekatan seperti ini memberi ruang bagi siswa untuk berpikir, bertanya, mencoba, dan memperbaiki kesalahan. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada jawaban yang benar, tetapi juga pada proses yang membantu siswa memahami alasan di balik jawaban tersebut.
Pada akhirnya, belajar membutuhkan proses yang tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya kita harus mengulang, mengingat, mencoba, melakukan kesalahan, lalu memperbaikinya. Namun, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar hafalan hingga lupa mencari makna dari apa yang dipelajari.
Tujuan belajar bukan sekadar membuat kita mampu menjawab pertanyaan yang pernah diberikan, melainkan membantu kita memahami pengetahuan dan menggunakannya ketika dibutuhkan. Dalam belajar bahasa Inggris, menguasai banyak kosakata memang bermanfaat.
Namun, ketika kita mampu memilih kata yang tepat, memahami maknanya, dan menggunakannya untuk menyampaikan pikiran, pengetahuan itu mulai berkembang menjadi keterampilan.
Sebab, menghafal dapat menjadi langkah awal dalam belajar, tetapi memahami dan menerapkan pengetahuan lah yang membuat proses belajar semakin bermakna.







