Menu

Mode Gelap

Opini

Bukan Tentang Pendidikan, Roh Pendidikan Ada pada Cara Guru Mengajar

badge-check


					Nanda Kristia Santoso Perbesar

Nanda Kristia Santoso

KEPRI.INFO-Ketika berbicara tentang pendidikan, perhatian sering kali tertuju pada kurikulum, gedung sekolah, fasilitas pembelajaran, hingga nilai ujian. Padahal, ada satu hal yang jauh lebih menentukan kualitas pendidikan, yakni bagaimana proses belajar berlangsung di dalam kelas.

Pendidikan tidak hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga membutuhkan roh yang mampu menghidupkan proses pembelajaran.

Roh tersebut hadir ketika guru memandang peserta didik sebagai manusia yang sedang bertumbuh, bukan sekadar penerima materi pelajaran atau pengumpul angka.

H. Douglas Brown dalam bukunya Teaching by Principles menegaskan bahwa pembelajaran yang efektif bersifat learner-centered atau berpusat pada peserta didik.

Gagasan ini mengubah cara kita memahami peran guru. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membantu setiap peserta didik membangun pemahamannya sendiri melalui pengalaman, interaksi, dan refleksi.

Namun, praktik pendidikan masih kerap didominasi pendekatan yang berpusat pada guru. Ruang kelas menjadi tempat berlangsungnya ceramah, sementara peserta didik lebih banyak mendengar, mencatat, dan menghafal.

Ukuran keberhasilan pun terkadang dipersempit menjadi capaian nilai ujian. Akibatnya, tidak sedikit peserta didik yang mampu memperoleh nilai tinggi, tetapi belum memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk berpikir kritis, berdiskusi, menyampaikan pendapat, maupun mengembangkan gagasannya.

Padahal, belajar seharusnya bukan perlombaan untuk menjadi yang tercepat. Belajar merupakan proses menemukan dan mengembangkan potensi diri.

Setiap peserta didik hadir dengan kemampuan, karakter, serta cara belajar yang berbeda.

Ada yang lebih mudah memahami materi melalui membaca, ada yang berkembang melalui diskusi, sementara yang lain justru lebih optimal ketika diberikan kesempatan mempraktikkan langsung apa yang dipelajari.

Perbedaan tersebut bukan kelemahan. Sebaliknya, perbedaan merupakan kenyataan yang harus dihargai dan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Brown juga menjelaskan bahwa motivasi merupakan salah satu unsur penting dalam keberhasilan belajar.

Karena itu, tugas guru bukan semata-mata menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun lingkungan belajar yang membuat peserta didik merasa aman untuk bertanya, tidak takut melakukan kesalahan, serta memiliki keberanian untuk mencoba kembali.

Kelas yang baik bukanlah kelas yang selalu sunyi. Kelas yang baik adalah ruang yang dipenuhi rasa ingin tahu, keberanian bertanya, proses berdiskusi, dan kesempatan untuk berkembang.

Dalam pengalaman saya mengajar, perubahan terbesar sering kali terjadi bukan karena materi yang lebih sulit, melainkan karena pendekatan yang lebih manusiawi.

Menurutnya, peserta didik yang sebelumnya pasif dapat mulai berani berbicara ketika pendapatnya dihargai. Begitu pula mereka yang merasa lemah dalam mata pelajaran tertentu dapat berkembang ketika kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus dipermalukan.

Di situlah roh pendidikan sesungguhnya berada.

Pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak mengetahui, melainkan tentang siapa yang paling banyak bertumbuh.

Guru tidak kehilangan wibawanya ketika memberikan ruang kepada peserta didik untuk berpikir, bertanya, dan menyampaikan pendapat.

Justru melalui proses tersebut, wibawa pendidikan dibangun—melalui kemampuan guru dalam membimbing, menginspirasi, sekaligus memanusiakan proses belajar.

Di tengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi, peran guru tetap memiliki posisi penting. Kecerdasan buatan dapat memberikan jawaban, buku dapat menyajikan informasi, dan teknologi dapat mempercepat akses terhadap pengetahuan.

Namun, pendidikan tidak berhenti pada transfer informasi.

Ada karakter yang harus dibangun, empati yang harus ditumbuhkan, serta semangat belajar yang harus terus dijaga.

Teknologi dapat menjadi alat bantu, tetapi roh pendidikan tetap lahir dari hubungan antar manusia.

Karena itu, sudah saatnya pertanyaan dalam dunia pendidikan digeser dari “Apa yang diajarkan hari ini?” menjadi “Siapa yang bertumbuh hari ini?”

Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang berhasil diselesaikan, tetapi oleh seberapa banyak manusia yang berhasil berkembang melalui proses pembelajaran.(Yuli)

Oleh: Nanda Kristia Santoso

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga

Satu Tahun Kepemimpinan Amsakar-Li Claudia, HMKB Tanjungpinang Soroti Sejumlah Perosoalan

3 Maret 2026 - 21:40 WIB

Satu Tahun Kepemimpinan Amsakar-Li Claudia, HMKB Tanjungpinang Soroti Sejumlah Perosoalan

Tukin Tidak Adil Menggerus Profesionalisme Dosen dan Masa Depan Pendidikan

3 Februari 2026 - 12:47 WIB

Bersama Timnya, Ruben Cornelius Siagian. Peneliti Muda, Pusat Riset Cendekiawan dan Peneliti Muda Indonesia (CITA) F-Ruben Cornelius Siagian.

Integritas Pers dan Ancaman Kehormatan yang Tercemar

1 Februari 2026 - 14:37 WIB

M.Nazarullah

Rapat, Sarana Komunikasi Yang Efektif Dalam Persiapan Pengawasan Pemilu 2029

26 Januari 2026 - 19:08 WIB

HENDRI SAFUTRA, S.Pd.I, MM (Anggota Bawaslu Kota Tanjungpinang)

Dari Pengawasan Partisipatif Hingga Peringatan Isra’ Mi’raj

24 Januari 2026 - 14:32 WIB

Dari Pengawasan Partisipatif Hingga Peringatan Isra' Mi'raj
Trending di Opini