KEPRI.INFO,TANJUNGPINANG – Aktivitas pemuatan belasan ton beras di Pelabuhan Sri Payung, Kijang Lama, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menjadi sorotan.
Beras dalam jumlah besar tersebut diduga akan dikirim ke Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.
Pantauan media ini pada Jumat (4/9/2026) siang, terlihat aktivitas pemindahan dan pemuatan ratusan karung beras dalam jumlah besar di kawasan Pelabuhan Sri Payung.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, beras tersebut diduga berasal dari Kota Batam dengan total mencapai lebih dari 12 ton.
Beras tersebut tercatat disebut-sebut pihak pengirim Tatang Solihin, warga Gesek KM 18, Kabupaten Bintan.
Informasi lainnya menyebutkan, belasan ton beras tersebut semula direncanakan diberangkatkan pada Kamis (3/9/2026) menggunakan Kapal Motor (KM) Kalimas Utama, dengan daerah asal pengeluaran tercatat dari Telaga Punggur, Kota Batam.

Lori pengangkut beras saat antri masuk untuk dimuat ke Kapal tujuan Kabupaten Sambas, Jumat (04/09)
Namun, pada Jumat (4/9/2026), belasan ton beras tersebut justru terpantau dimuat ke KM Kalimas Utama melalui Pelabuhan Sri Payung, Kijang Lama, Kota Tanjungpinang.
Dalam dokumen yang dihimpun media ini, tujuan pengeluaran beras tersebut tercatat untuk diperdagangkan.
Beras tersebut dilengkapi Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area Nomor 2026-T3.0-2103.1-K.T.3-001985.
Dokumen tersebut diterbitkan di Kota Batam dan ditandatangani Pejabat Karantina Tumbuhan atas nama Dwi Pancawati.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai proses pengangkutan dan pengeluaran beras tersebut melalui Pelabuhan Sri Payung.
Apakah ada dokumen PP FTZ terkait alur pendistribusian beras tersebut ?.
Karena itu, keberadaan dan pengiriman beras dalam jumlah belasan ton melalui wilayah tersebut menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut, terutama terkait asal-usul komoditas, jalur distribusi, serta kelengkapan dokumen pengangkutannya.
Media ini masih melakukan pendalaman terkait proses penyaluran belasan ton beras tersebut, termasuk memastikan asal-usul beras, mekanisme pengangkutan, serta kesesuaian dokumen karantina dengan pergerakan komoditas tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak terkait mengenai aktivitas pengiriman belasan ton beras tersebut.
Redaktur: Suaib







