Menu ✖

Mode Gelap

Kepri

Ekspor SBW Capai 32,9 Triliun, Karantina Kepri Komitmen Jamin Kualitas

badge-check


					Herwintarti, Kepala Karantina Kepri, Rabu (13/11/2024)-Nuzli Perbesar

Herwintarti, Kepala Karantina Kepri, Rabu (13/11/2024)-Nuzli

BATAM,Kepri.info – Sarang burung walet (SBW) yang dikenal dengan sebutan emas putih menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Kepulauan Riau (Kepri) dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Potensi SBW di pasar ekspor pun masih sangat terbuka. Dengan terus meningkatnya permintaan pasar dunia, sehingga perlu jaminan kualitas akan komoditas tersebut.

Mengakomodir hal tersebut Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri) gelar acara kelompok diskusi terarah (FGD) bertemakan Dialog Interaktif “Perkuat Strategi Hilirisasi dan Peluang Pasar Ekspor SBW Dalam Mendukung Ketahanan Pangan” bertempat di Ballroom Hotel Santika, Rabu (13/11/2024).

Herwintarti, Kepala Karantina Kepri mengatakan FGD ini menjadi wujud konsistensi Karantina Kepri dalam mendorong dan kawal mitra karantina untuk terus melakukan ekspor SBW ke berbagai negara.

“Karantina Kepri berkomitmen untuk terus memfasilitasi ekspor SBW dengan tetap memperhatikan pemenuhan persyaratan karantina ekspor ke negara tujuan,” ungkap Herwintarti.

Berdasarkan data Indonesia Quarantine Automation System (IQFAST), hingga Agustus 2024 diketahui volume ekspor SBW yang telah melakukan sertifikasi sebanyak 95 kali dengan volume hampir 2.350 kg senilai 32,9 triliun.

Dengan potensi yang besar tersebut diharapkan terus terjaga kualitas SBW asal Kepulauan Riau, menambah nilai jual di pasar internasional dan semakin banyak negara tujuan ekspor.

“Dengan rutinnya monitoring yang dilakukan Karantina Kepri ke pengusaha walet yang ada di Kepri khususnya Batam adalah wujud Karantina Kepri asistensi langsung kepada pelaku usaha SBW baik administrasi maupun teknis sesuai protokol dari hulu ke hilir dan memastikan jaminan sanitary melalui Health Certificate seiring trend positif peningkatan ekspor SBW membawa pertumbuhan ekonomi dan memperkuat ketahanan pangan Nasional,” imbuh Herwintarti.

Selanjutnya hasil diskusi terarah Focus Grup Discussion (FGD) ditekankan pada ketelusuran melalui formulasi sistem hilirisasi yang integratif dan harmonisasi antar entitas yang terlibat untuk menjaga kestabilan dan keberlanjutan ekspor SBW serta keseimbangan ekosistem SBW.(Nzl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga

Peringati HUT Ke-81 TNI, Koarmada I Kobarkan Semangat Juang Pahlawan Melalui Ziarah Taman Makam Pahlawan

29 September 2026 - 08:49 WIB

Peringati HUT Ke-81 TNI, Koarmada I Kobarkan Semangat Juang Pahlawan Melalui Ziarah Taman Makam Pahlawan

DPM FEBM UMRAH Gelar Seminar Interaktif, Dicky Novalino Bahas Peran Strategis Mahasiswa

27 September 2026 - 11:16 WIB

DPM FEBM UMRAH Gelar Seminar Interaktif, Dicky Novalino Bahas Peran Strategis Mahasiswa

Guru Hebat Tak Cukup Hanya Kompeten, Harus Jadi Pelindung yang Aman bagi Murid

23 September 2026 - 21:35 WIB

Guru Hebat Tak Cukup Hanya Kompeten, Harus Jadi Pelindung yang Aman bagi Murid

Tabligh Akbar “Islam Berkemajuan” Digelar di Tanjungpinang, Ketua MUI Riau Jadi Narasumber

21 September 2026 - 10:51 WIB

Tabligh Akbar “Islam Berkemajuan” Digelar di Tanjungpinang, Ketua MUI Riau Jadi Narasumber

Revitalisasi SMAN 1 Batam Jadi Langkah Penguatan Fasilitas Pendidikan bagi 1.544 Siswa

18 September 2026 - 15:52 WIB

Revitalisasi SMAN 1 Batam Jadi Langkah Penguatan Fasilitas Pendidikan bagi 1.544 Siswa
Trending di Batam